Berminat dengan jurusan Oceanografi ?
News > Berminat dengan jurusan Oceanografi ?
Kejayaan nenek moyang bangsa ini sebagai pelaut ulung bukanlah cerita asing di kalangan anak-anak muda. Akan tetapi, sepertinya bangsa ini menganggap kejayaan masa lalu itu berhenti hanya sebagai sejarah. Generasi muda sekarang pun berpaling makin jauh sebagai cucu dari para pelaut mumpuni yang pernah disegani bangsa-bangsa di dunia. Kesadaran wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan, yang dua pertiga wilayahnya berupa laut, begitu jauh dari kalangan anak-anak muda. Kenyataan itu tidaklah mengherankan karena bangsa ini memang tidak jua berpaling pada kekuatan sebagai negara maritim.
"Fakta ironis menyebutkan, Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan pusat keanekaragaman biota laut yang tinggi, namun tidak memiliki banyak SDM taksonom laut yang mempunyai keahlian dan menekuni bidang taksonomi laut dan berperan sebagai ahli taksonomi",
kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, LIPI, Hery Harjono (Sumber : www.lipi.go.id, 22 April 2010).
Lebih lanjut menurut Kepala Pusat Penelitian (P2) Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Suharsono, jumlah museum di Indonesia sebagai salah satu tempat para taksonom bekerja juga masih minim. "Taksonom biasanya kan menjadi kurator di museum-museum. Di luar negeri taksonom Indonesia sangat laris", katanya.
Fakta lainnya adalah Ilmu Kelautan yang dipelajari di tingkat Perguruan Tinggi masih tergolong kurang memadai, baik dari segi sarana maupun pra sarana. Ditambah lagi sedikitnya minat para calon mahasiswa untuk mengambil bidang ini. Inovasi dan teknologi di bidang kelautan sangatlah minim, dilihat dari jumlah universitas yang membuka program studi di bidang ilmu dan teknologi kelautan. Jumlahnya bisa terhitung dengan jari.
Dibanding negara lain seperti Jerman, Jepang, Amerika, Norwegia, China, dan Belanda, Indonesia memang sangat tertinggal jauh di bidang ilmu dan teknologi kelautan, padahal Indonesia seharusnya lebih maju di bidang itu dibanding bidang lainnya seperti bidang pertanian dan eksplorasi alam.
Karena era sekarang bukanlah lagi tentang agraris, minyak, dan tambang lagi, melainkan semua mengarah ke laut. Masih banyak potensi laut yang belum tergarap, tidak hanya melulu soal makanan dan perikanan, tapi juga soal energi laut, wisata laut, infrastruktur laut, dan masih banyak lainnya.
Nah, sebagai alumni – alumni Jerman, kami tentu turut merasa prihatin dengan kondisi seperti ini. Apalagi didukung dengan kenyataan yang ada bahwa Jerman memiliki dua kampus ternama yang memiliki jurusan kelautan. Universitas Hamburg dan Universitas Kiel. Sarana dan Prasarana yang dimiliki kedua kampus tersebut juga sudah bertaraf internasional. Misalnya saja pada ekspedisi di kepulauan Kanari baru – baru ini. Kapal POSEIDON yang ditumpangi oleh para ahli dan ilmuwan dari Universitas Kiel dilengkapi oleh peralatan yang modern dan canggih.
Atau Universitas Hamburg yang telah menjalin kerjasama internasional dalam bidang kelautan. Hal ini ditandai dengan penghargaan yang di terima oleh Prof. Dr. Jürgen Sündermann yang telah menyatukan ahli kelautan Pemerintah Republik China dan Jerman untuk saling bekerjasama.
Nah sekarang mungkin sudah waktunya bagi Indonesia yang notabene adalah negara maritim untuk lebih peduli pada sektor kelautan. Sudah waktunya pula bagi siswa/i SMA yang sedang berlomba – lomba untuk mendapatkan perguruan tinggi untuk turut memikirkan masa depan bangsa terutama pada bidang kelautan. Ingat pepatah, “bangsa maju karena pendidikannya”, demikian pula ” kelautan Indonesia maju karena pendidikan kelautannya”.
Salam Karnaval dari Jerman
HELAU! Alaaff! Demikian salam karnaval di Jerman. Tahun ini pawai karnaval di Braunschweig diadakan pada hari Minggu, 14 Februari 2010. Karnaval Braunschweig adalah karnaval terbesar keempatlanjut
Sang Timur Education Fair
Sebagai bentuk dari konsekuensi Spitze Studium dalam penyebaran informasi, kami pun menyempatkan dirilanjut
| Study Consultation |
|---|
|
|